Monday, May 16, 2011

Piramida Pasar Mobile di Indonesia

Jakarta - Google baru saja mengumumkan kehadiran layanan yang memungkinkan pengguna menikmati musik melalui Android Market. Ini tentu merupakan jawaban dari layanan serupa yang telah dihadirkan sebelumnya oleh Nokia, Apple, dan Amazon.

Semua berusaha untuk memberikan kemudahan bagi pengguna handset agar dapat mengakses dan menikmati musik langsung dari handsetnya.

Sebuah keputusan bisnis yang didukung oleh perilaku mayoritas pengguna teknologi yang mau berinvestasi untuk menikmati konten digital dan didukung oleh teknologi yang mampu mereduksi penggandaan. Sayangnya perilaku ini tidak berlaku di semua negara.

Di Indonesia pengguna teknologi dari kalangan terdidik cenderung memiliki apresiasi yang lebih rendah terhadap produk teknologi digital. Keinginan berinvestasi saat menikmati produk konten masih sangat kecil. Persepsi ini disinyalir merupakan sumbangan pemahaman yang salah dari sifat kode program.

Mengapa demikian? Karena saat kita bicara kode program, penentuan kode terbuka atau tertutup adalah hak penuh dari pengembang. Saat kode sudah bertransformasi menjadi perangkat lunak (konten), lagi-lagi pengembang yang berhak menentukan apakah konten tersebut akan menjadi konten gratis atau berbayar.

Sayangnya pihak regulator hanya berteriak di level kode. Persepsi kalangan terdidik sudah terlanjur menjadi ambigu karena tidak bisa membedakan antara konten gratis dan gratis konten. Hal ini sangat merugikan pengembang perangkat lunak dan pemain industri kreatif digital.

Namun kita harus bersyukur, walaupun kalangan terdidik mendominasi keputusan, namun jumlahnya tidak signifikan bila dibandingkan dengan 230 juta penduduk Indonesia.

Piramida Bawah

Mayoritas dari kita mungkin sudah tidak pernah membeli kaset atau CD musik, namun ternyata lagu-lagu baru masih terus hadir. Teknologi Ring Back Tone (RBT) adalah salah satu yang membuat musisi kita masih berkarya.

Mayoritas musisi lokal sudah tidak peduli dengan penjualan CD / kaset bajakan, karena RBT tidak bisa dibajak dan pengguna diharuskan mendaftar dengan kemudian dipotong pulsanya.

Sumbangsih piramida bawah pengguna teknologi mobile memberikan kontribusi signifikan terhadap industri RBT di Indonesia. Pengguna teknologi mobile di piramida bawah memang cenderung lebih konsumtif dan walaupun daya beli mereka rendah, namun keinginan untuk menikmati produk teknologi digital terutama yang bisa dikonsumsi melalui handset ternyata sangat besar.

Faktor pengali dari jumlah pengguna tersebut menghasilkan angka yang fantastis. Tak heran, merujuk data dari Deperin, nilai industri konten di Indonesia mencapai total 11 trilyun rupiah di tahun 2011.

Terima kasih kepada siapapun yang telah membawa teknologi RBT ke pasar Indonesia, yang telah membuat pengguna layanan seluler di Indonesia terbiasa dengan skenario potong pulsa. Beberapa toko penjual konten, seperti Ovi Store, pun akhirnya menyediakan layanan beli konten dengan mekanisme potong pulsa di Indonesia.

Pertanyaan paling esensial adalah saat aplikasi kelak menjadi komoditas seperti halnya RBT, siapa yang akan menjadi tuan rumah? Apakah pengembang lokal seperti halnya musisi lokal di ranah RBT atau lagi-lagi pengembang luar?


Tentang Penulis: Narenda Wicaksono adalah Developer Marketing Manager untuk Nokia Indonesia.



( wsh / wsh )

Artikel yang Berkaitan

0 komentar:

Post a Comment