Wednesday, July 27, 2011

Bikin Game, di Antara Ikutan Tren dan Mencetuskan Ide

Bikin Game, di Antara Ikutan Tren dan Mencetuskan Ide

Jakarta - Menciptakan sesuatu, demikian juga halnya dengan membuat game, didasari berbagai pertimbangan dan latar belakang. Para developer game di acara Ngopi Bareng detikINET berbagi pengalaman mereka soal ini.

Ivan Chen yang merupakan perwakilan dari Majapahit Online mengatakan, awal dirinya membuat game berawal dari idealisme, yakni keinginan membuat game bertema sejarah kerajaan Indonesia di masa lampau.

"Game yang dikembangkan Majapahit Online berangkat dari idealisme. Setelah jadi, lalu kami baru memikirkan bagaimana agar game ini bisa diterima oleh pasar," kata Ivan, Rabu (27/7/2011).

Sementara Arief Widhiyasa dari Agate Studio membuat game berlandaskan kesukaan. "Kami di Agate percaya bahwa kita hidup dari bahagia. Kita juga percaya main game itu akan membuat orang, sesimpel itu," ujarnya.

Membahas apakah gamenya mengikuti tren atau ide sendiri, Arief mengatakan dia dan timnya mempunyai porsi untuk itu. "Proporsional saja. Yang tidak ikut tren mungkin bisa lebih high risk. Tapi tergantung kondisi. Sekitar 70 persen kita ikut tren," terangnya.

Heru Nugroho mewakili Nusantara Online mengatakan setiap pengusaha, termasuk developer game pasti akan mendahulukan yang lebih dulu. Namun dalam membuat game, dirinya juga berusaha membangun nilai lain. Misalnya, menjadikan game sebagai alat pengenalan sejarah.

"Sah-sah saja mencari profit. Tapi selain profit, saya juga ingin membangun value. Itu yang jadi latar belakang saya memilih bisnis di game online. Ada hal lain yang lebih penting dari sekedar cari profit. Itu masalah pilihan," ujarnya.


Ngopi Bareng detikINET adalah diskusi santai bulanan yang diadakan detikINET. Acara kali ini didukung oleh Anomali Coffee dan Vipre Antivirus.




( rns / ash )


Sumber detik com

Artikel yang Berkaitan

0 komentar:

Post a Comment